Petugas Bank Mandiri menghitung pecahan uang rupiah dan dollar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat 18/3).
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan bahwa fundamental ekonomi domestik yang masih positif menjadi salah satu faktor penopang laju mata uang rupiah terhadap dolar AS.
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih di atas lima persen, sehingga secara jangka panjang kami menilai rupiah masih akan positif, namun secara intraday mungkin laju rupiah bergerak di kisaran sempit sehingga potensi untuk bergerak melemah juga cukup terbuka," katanya.
Dari global, kat dia, harga minyak mentah dunia yang berada di atas level 40 dolar AS per barel juga masih menjadi salah satu faktor yang menopang laju mata uang komoditas, salah satunya rupiah.
"Menguatnya sejumlah harga minyak itu akan mendorong komoditas lainnya turut naik sehingga dapat berimbas pada laju rupiah," katanya.
Harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Rabu pagi ini, berada di level 41,02 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi 41,37 dolar AS per barel.
Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa dolar AS masih berpotensi kembali bergerak menguat ditopang oleh sinyal untuk kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
"Proyeksi menunjukkan kenaikan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini merupakan pengaturan yang bagus, sehingga potensi kenaikan suku bunga naik pada 26-27 April akan terbuka," katanya.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat yang akan melaporkan jumlah penjualan rumah baru untuk bulan Februari menjadi perhatian investor, penjualan rumah yang meningkat maka berpotensi direspon positif oleh dolar AS.
Sumber : Republika.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar